Powered by Blogger.

Can u imagine world without music?

RSS

PITBULL's Live Concert at Tennis Indoor Senayan

May 12th, 2010


ARMANDO CHRISTIAN PEREZ a.k.a PITBULL.. Mana ada rapper ganteng dan dandy yg show selalu berpakaian resmi seperti dia?
Bisa dibilang saya salah satu orang yang beruntung karena bisa mendapatkan tiket konser Pitbull. Pasalnya, promosi live concert Pitbull in Jakarta ini awalnya hanya dari account Twitter promotor Java Musikindo, Om Adrie Subono (@AdrieSubono) dan @Javamusikindo. Belum ada promosi apapun melalui media lain (baliho, billboard, iklan TV, dll).
Tanggal 1 April 2010, tepat jam 00:00 tiket presale dijual online via www.javamusikindo.com yang sebelumnya sudah diumumkan via Twitter oleh om Adrie. Presale 1 Tribune dijual pada harga 250.000 dan Festival dijual pada harga 350.000. Dan akan naik 50.000 rupiah pada presale 2 dan presale 3. Harga reguler tiketnya sendiri 400.000 utk tribune dan 500.000 utk festival.
Tepat jam 00:00 tanggal 1 April, server website Javamusikindo sibuk sehingga susah diakses, saya pribadi sampai sudah pasrah tidak kebagian tiket. Jam 00:15 presale 1 sudah ludes terjual,  00:30 presale 2 habis, dan akhirnya 00:45 saya dan teman-teman berhasil mendapatkan presale 3, dengan harga 463.000 utk Festival (incl.tax cc).
Memonitor account Twitter om Adrie Subono pagi harinya, pk 06.00 ribuan orang sudah menyerbu kantor Java Musikindo dan pukul 20.00 ribuan tiket ludes terjual. SOLD OUT dalam sehari! Benar-benar sejarah, baru kali ini tiket sold out dalam 1 hari perjualan, menurut Adrie Subono. Dari sini kita dapat lihat The Power of Twitter. Banyak orang yang menyesal tidak mendapat tiket, karena tidak berhasil akses website, dan ada pula yang tidak tahu bahwa Pitbull akan konser di Jakarta. Mereka cuma bisa gigit jari ketika promo/iklan konser ini ditayangkan di TV dan dipasang pada billboard di jalan-jalan besar.
Tgl 12 Mei (Rabu), yang keesokan harinya adalah hari libur, sejak sore hari semua jalanan di Jakarta padat merayap. Termasuk daerah menuju Tennis Indoor Senayan. Pukul 18.30 saya dan teman-teman sudah sampai ke venue. Banyak juga calo-calo yang menjual tiket di luar. Harga dijual sekitar 600.00 – 1.000.000 rupiah.



Terus terang saya agak kaget dengan penonton yang datang. Ekspektasi saya yang datang adalah kaum dewasa muda, minimal anak kuliah lah. Dengan pertimbangan lirik lagu Pitbull agak vulgar spt itu, video clipnya, dandanannya yang “dandy”, juga mengingat sponsor konser itu rokok dan alat kontrasepsi. Tapi ternyata mayoritas yang datang adalah ABG dan remaja pelajar SMP/SMA. Bahkan yang mukanya masih polos-polos. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Anak muda jaman sekarang! Kalau saya yang jadi promotornya, akan saya buat peraturan, penonton harus 18+, karena jujur kelakuan ABG-ABG itu tidak behave sama sekali, kesal sekali kami dibuatnya!


Singkat cerita, kami mengantri masuk venue tidak terlalu lama. Seperti biasa, kalau sudah di tempat konser, jangan harap ada signal seluler yang lancar.. Opening act by Saykoji, pukul 20.15, lumayan lah.. ABG banget.. Dan memang tidak ada rapper Indonesia lain lagi yang menurut saya cocok utk jadi artis pembuka. ABG-ABG mulai jejeritan di kuping, berdesak-desakan, dorong-dorongan. Malah sempat terlintas dalam benak saya “tahu gini, beli yang tribune aja..” Karena di tribune ada tempat duduknya, walaupun tempat lebih jauh dari panggung. Saykoji sukses buat ABG-ABG lain jingkrak-jingkrak. So far kaum dewasa muda yang saya harapkan belum kelihatan batang hidungnya. Saya dan teman2 berasa tante-tante di sana. Yang cowo-cowo sih pada seneng, banyak cewe-cewe yg bisa dibuat cuci mata. Pukul 21.00 Saykoji selesai perform dan bagi-bagi kaos.


Setengah jam menunggu-nunggu sang rapper ganteng, akhirnya pukul 21.30, Armando Christian Perez alias PITBULL yang ditunggu-tunggu muncul juga. Perform sekitar 1,5 jam, dia benar-benar mengangkat suasana. Semua penonton bergoyang. Di lagu ke-4 saya dan teman-teman karena kesesakan didorong-dorong dari belakang, akhirnya pindah ke belakang samping, tempat yang agak lega. Jadi kita bisa nge-dance dan jingkrak-jingkrak =)


Lagu-lagu di album “Rebelution” banyak dinyanyikan, seperti hits andalan-nya: I KNOW YOU WANT ME, HOTEL ROOM SERVICE, KRAZY, AROUND THE WORLD, MR.305, etc.. plus DJ performance yang dibawa oleh Pitbull dan band-nya, memainkan lagu-lagu TOP 40 seperti Lady Gaga, Black Eyed Peas, Rihanna, dll. Ahh, AWESOME! Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata! Sekitar 5200 penonton bergoyang dan berjingkrak-jingrak menikmati suasana. Band dan DJ-nya mantab karena diboyong sendiri oleh PITBULL dari Amerika, sound system mantabsss berhasil buat jantung berdetak kencang. Saya cuma bisa membayangkan, bagaimana kalo ini bukan di Tennis Indoor Senayan, tapi private party di club-club. Pasti asik banget, gak keramean! =)


 Semakin malam, semakin ramai, dan (AKHIRNYA) kaum dewasa muda kelihatan juga batang hidungnya.. Bahkan ada juga orang tua.. Banyak menggerombol di belakang, banyak juga orang asing dan artis-artis. Sempat berjoget-joget di sebelah saya: Manohara and mom (tante Daisy Fajarina) beserta asisten & salah satu kerabat kerajaan Kelantan, ada juga Nadya Mulya and the gank, Nikita Willy. Sempat juga terlihat Afgan & Olivia, Dimas Seto, Meriam Belina (in high heels), Indra Herlambang, Adry Danuatmadja. Artis lain banyak yang datang, tapi tak sempat terdeteksi oleh mata saya.
Sekitar jam 23.00 PITBULL mengakhiri konsernya, dan dilanjutkan ada DJ performance di luar + booth penjual CD, souvenir dan makanan. MEMUASKAN! Good job for Java Production and Om Adrie Subono! =)
 
 
NB: Foto2 yang akan saya post courtessy of Adrie Subono from Twitter + beberapa foto hasil jepretan pribadi. Enjoy!
Yang mau lihat videonya di YOU TUBE, silakan ke: RT @AdrieSubono: video PITBULL @Jakarta Concerts yg wajib elu ntn I Know You Want Me http://bit.ly/bD4E80 & KRAZY di http://bit.ly/aJgiM
 
 
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Java Jazz Festival 2010

March 12th, 2010

Hmm…excited banget buat aku dateng ke Java Jazz Festival (JJF) 2010 ini, karena ini JJF ku yang pertama.. Soalnya dari duluuu sejak 2005 pertama kali diadakan JJF, selaluuuuu aja ada hambatan, berhubung diadakan bulan Maret..dimana itu bulan2 diadakannya UTS, lalu selalu bentrok dengan rangkaian acara Lomba Presenter Berita Televisi di Surabaya. Tahun ini, karena saya sudah angkatan bangkotan di LPBT, dan karena ada beberapa keperluan lain di ibukota, saya absen dari final Lomba Presenter Berita Televisi dan berangkatlah ke Jakarta untuk menghadiri konser bertaraf internasional ini.

Bersama saudara sepupu saya dan teman2 tvOne : Miranti Puspitadewi, Nane Nindya, Cindy Sistyarani, Bagus Priambodo dan istrinya Novieta Putri (News Presenter Reportase Trans TV) dan sampai sana bertemu dengan teman2 lain, kami sangat menikmati JJF.


Tahun ini adalah tahun pertama JJF diadakan di Jakarta International Expo Kemayoran atau yg terkenal disebut Pekan Raya Jakarta. Tempatnya lebih luas dan lega dibandingkan dengan JCC – tempat diadakannya JJF dari tahun ke tahun. Hanya saja lapangan parkir dan gedung acaranya cukup jauh bila diraih dengan berjalan kaki. Banyak juga disediakan tempat untuk foto2 narsis. =p foto2 narsis saya dapat dicek di Facebook =p
Lebih dari 30.000 orang diperkirakan hadir dalam festival musik tahunan ini. Dibagi dalam beberapa banyak stage, dalam sehari puluhan musisi pop dan jazz tampil dengan durasi 30 menit- 1jam/performance. Special show (masuk bayar tiket lagi) nya ada John Legend, Kenny “Babyface”, Toni Braxton, dan Manhattan Transfer.
RI 1 dan RI 2 pun ikut menghadiri JJF. Pak SBY beserta Ibu Ani datang pada hari Jumat, dalam konser Diane Warren. Begitu Pak Presiden datang bersama rombongan (Menbudpar-Jero Wacik dan Penyelenggara JJF Pak Peter Gontha), lagu Indonesia Raya langsung berkumandang. RI 2, Pak Boediono datang pada hari Minggu dalam konser The Manhattan Transfer.
Saya sendiri yang memiliki 3 days pass hanya datang pada hari Jumat dan Sabtu, karena hari Minggu-nya sudah “TEPAR” karena Jumat dan Sabtu sampai rumah dari JJF pukul 02.30 dini hari.
Show yang sempat saya saksikan hari Jumat adalah:
  • SOL Project – Indonesian Groove Latino
  • Eric Benet
  • Indra Lesmana and Friends (Gilang Ramadhan, Dewa Budjana, dll)
  • dan Sheila Majid.



Karena belum terbiasa, dan masih “bodoh” dalam menonton konser yg diselenggarakan Java Production ini, hanya sedikit show yang bisa saya saksikan pada hari Jumat.
Pada hari Sabtu, karena sudah mengatur schedule artis mana saja yang akan ditonton, saya lebih flexible untuk mengatur, dan lebih banyak artis yang ditonton.
Hari Sabtu, show yang saya saksikan yaitu:
  • Maliq n d’ Essentials
  • Andezzz
  • Diane Warren feat. Eric Benet, Sandhy Sondoro, Griffith Frank, Dira Sugandhi dan 2 penyanyi yang dibawa-nya (Maaf, saya lupa namanya, tapi yang jelas 1 cowo itu ganteeeeeeeeng banget, seperti Rufus Humphrey dalam serial Gossip Girl, yang 1 cewe cantiiiiiiiiiiiiiiiikk sekali mirip Celine Dion).
  • Lee Ritenour
  • Jazzanova feat. Paul Randolph



Show yang paling berkesan untuk saya pribadi adalah Diane Warren’s show karena Diane Warren dikenal sebagai pencipta lagu2 yg mendunia dan melegenda yang sering di-recycle oleh penyanyi2 baru spt I Don’t Wanna Miss a Thing, Unbreak My Heart, dll..
Lagu-lagu yang sudah familiar di telinga dinyanyikan oleh penyanyi2 yang sudah saya sebut di atas. Rasanya tidak seperti di Indonesia, karena semua musisi yang mengiringi adalah orang barat, begitu pula dengan show tunggal Eric Benet yang diiringi Ron King Big Band yang anggota-nya musisi2 yang sudah berumur. Awesome!
Karena jarak stage 1 menuju stage lainnya relatif jauh,dan banyaknya booth-booth menarik, hal ini membuat dalam sehari show show yang ditonton sedikit. Food court nya sendiri menyediakan makanan-makanan dari taraf bazaar hingga taraf mal, sebut saja Ramen Sanpachi, Sushi Groove, Heavenly Blush, Sour Sally, Starbucks, The Coffee Bean, Bakmi GM, Quickly, Hot Dog King, dan masih banyak lagi.




Booth-booth yang dibuka juga sangat menarik seperti Aquarius, Disc Tarra, Rolling Stone Magazine, OZ FM Jakarta, CANON, First Media, Tempo Group, MRA Group, BNI, dan masih banyak lagi booth-booth keren lainnya. Booth official Merchandise Java Jazz juga salah satu booth yang paling laris menjual pernak pernik dan barang-barang berlabel Java Jazz. Hari Sabtu malam, T-Shirt stocknya sudah habis. Untungnya saya masih kebagian 2 kaos berukuran kecil =p
Overall, Java Jazz Festival 2010 memuaskan, hanya saja beberapa kekurangan yg sangat mengganggu yaitu susahnya sinyal telepon selular selain AXIS. Antara provider lain di-banned oleh AXIS, atau karena membludaknya jumlah pengunjung yang membuat traffic sinyal sangat sulit. Jangankan sinyal GPRS untuk online internet, sinyal GSM untuk SMS dan telpon pun sulit.
Berikut tips-tips dari saya untuk masukan jika anda ingin menonton konser dari Java Production yang akan datang (Java Jazz, Java Soulnation atau Java Rockin’ Land):
  1. Pakai sepatu yang nyaman, dan bagi wanita jangan memakai HIGH HEELS jika tidak ingin kaki pegal.
  2. Pakai baju yang nyaman yang menyerap keringat, dan bawa asesoris baju tambahan untuk mencegah kedinginan di dalam hall konser. Misal: membawa shawl atau jaket/cardigan. Jika keluar hall dapat dilepas karena pasti berkeringat, apalagi di Food Court.
  3. Membuat schedule artis-artis mana saja yang ingin ditonton, karena jelas tidak memungkinkan untuk menonton semua show. Schedule sebelumnya dapat diakses di offcial website-nya.
  4. Janjian di luar area konser, berangkat bersama, jika tidak, dijamin susah ketemunya di dalam karena terlalu ramai dan sulitnya sinyal.
  5. Jika ingin memborong merchandise unik khas event itu, hunting lah pada hari awal konser,jika tidak ingin kehabisan.
  6. Bagi pecinta fotografi dan punya kamera-kamera canggih, jangan lupa lensa tele, kalau dapat tempat duduk/berdiri di belakang, susah dapat foto bagus kalo ga pake tele *curcol*
Segitu dulu yah report JJF nya.. saya mau kembali mengerjakan skripshit.

Luv,
Ella Enchanted

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Broadway Show at Grand Indonesia

July 29th, 2008


Hari Minggu kemarin, tgl 27 Juli 2008, aku ke gereja Katedral Jkt — Sudah lamaaaaaaaaaaaaa bangeeettt ga misa disini… jadi kangen sama ni gereja. Kebetulan temanku, Jeffrey Haribowo , alumni Fikom Petra 2002, sekarang jadi Public Relation-nya Exxon Mobil (Mobil Cepu Ltd.), juga mau misa di sini. Akhirnya berangkatlah kita misa di Katedral….
Pulang misa, kita langsung cabs (cabut –red) ke Grand Indonesia, karena dapat info sebelumnya dari milis Indonesia Choral Lovers, kalau ada Konser Musik Broadway di West Mall-nya, makanya kita tertarik banget nonton konser itu. Setelah makan, dan sedikit muter-muter Grand Indonesia yang sekarang sudah tambah kereeeeeennn abiiisss dengan interior nuansa Jepang, New York,dll, jam 3 kita langsung ke Lantai 3A, di depan Excelso, tempat Fountain daily show. Di depannya sudah berdiri panggung yang tidak terlalu gedhe.



Tepat jam 3 PM acara dimulai, diawali dengan musical fountain biasa — lagu New York, New York dan Opening Phantom of the Opera. Lalu sekitar belasan penyanyi berbaju putih-putih naik ke panggung menyanyikan lagu Seasons of Love – OST. Rent. Hmmm..awalnya tidak terlalu istimewa karena sepertinya masih ribet denga sound system, sehingga vokal para penyanyi tidak terlalu terdengar. Lagu selanjutnya Ain’t No Mountain High Enough, dinyanyikan oleh seorang cowo, dan 5 cewe berbaju putih-putih. Kali ini menurutku lumayan oke lah nyanyinya karena mereka nyanyi dengan energik.


Setelah itu mereka turun dan digantikan dengan beberapa orang bertopeng (aku kira mau nyanyi Masquerade, ternyata kaga). Ternyata mereka cuma penari-penari yang menjadi lata 2 orang yang penyanyi All I Ask of You. hmmmh, tak terlalu bagus lah. Masalah masih pada vokal dan sound system. Suara cowo-nya sebenarnya lumayan bagus, tapi begitu suara cewenya masuk, jadi kebanting.
Lagu Don’t Cry for Me Argentina – OST. Evita (dibawakan oleh penyanyi yang berbeda) dan ternyaaataa.. ketahuan banget kalau suaranya rekaman!! Jadi suaranya kedobelan gitu.. mungkin kondisi dia lagi tidak fit kali ya..
Cewe itu turun, langsung dilanjutkan dengan belasan orang masuk, pakai baju yang heboh ala ’80-an. Ternyata mereka nyanyiin OST. Grease – Tell Me More, dan beberapa lagu lain.. Lumayan bagus. Rancak dan energik.
Kelar sesi 80-an, 4 orang anak kecil masuk. Mereka menyanyikan Somewhere Over the Rainbow, Tomorrow, dan Any Dream Will Do dengan bantuan beberapa orang dewasa. Lucu-lucu banget deh mereka. Kostum mereka mereka juga bagus n lucu.
Setelah anak-anak itu nyanyi, yang dewasa-dewasa keluar lagi dengan kostum hitam-hitam ada belang-belang putihnya. aku udah mikir, sepertinya mau nyanyi OST. CATS. Dan ternyata benar. Seorang cewe masuk dan menyanyi Memory (aduh,maaf ya, secara aku sudah lihat Ce Ira P.S nyanyi Memory dengan sebegitu bagusnya, jadi menurut aku yang ini biasa banget). Dilanjutkan dengan lagu Jellicle Cats, dan OST. Cats yang lain.



Kemudian, muncul lagi orang-orang dewasa yang lain, ditambah dengan anak kecil dengan kostum yang senada. Mereka membawakan OST. Sound of Music. Lagu The Sound of Music, Do-Re-Mi, My Favorite Things, Edelweis (aku sukaaaa deh sama bagian yang ini), mereka nyanyikan dengan bagus, atraktif, dan ada sedikit gerakan.
After that, all adult artist masuk dan menyanyikan Dancing Queen (aku sukaaa), terus disambung dengan We Will Rock You -nya Five, Love of My Life, Mama dan Bohemian Rhapsody milik Queen. Terakhir, semua artis yang mendukung konser musik Broadway ini masuk dan memberi anchora We are the Champion. Semua lagu Queen di-medley (aku sukaaa dehh).



Tepat pukul 16.30, pertunjukkan selesai. On time banget yah? Hmmm,, overall… show-nya lumayan dan tidak mengecewakan kok… ya iya lah…secara ini free alias gretong… tapi memang kelemahan ada pada sound system, dan vokal dari beberapa orang yang –IMHO- kurang matang.
Kelebihan mereka terletak pada wardrobe. TOP BANGET! Baju-baju-nya bagus banget. Awalnya aku pikir itu karena sponsornya adalah MRA GROUP (majalah Cosmopolitan, Cosmo Girl!, Good Housekeeping, dll), tapi ternyata tidak. mereka memang sengaja bandha di kostum :)
Pertunjukan semacam ini cocok banget diadakan di Grand Indonesia, karena interior GI sendiri sangat mendukung (bernuansa New York-red).


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Phantom of The Traditional Opera

July 3rd, 2008.

Pulang kerja, setelah ganti baju, n touch up, aku dinner dulu dengan salah satu tvOne’s news presenter, Andrie Nugroho Djarot, terus kami berdua langsung meluncur ke Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki. Kami tiba di sana sekitar jam 19.15 WIB, acara The Phantom of Traditional Opera mulai pukul 20.00.
Kami duduk di barisan VIP yang tiketnya dijual seharga 75ribu rupiah. Kalau regular harganya 50ribu, dan mahasiswa harganya 30ribu rupiah.
Sebelum acara mulai, aku dikenalkan pada Pimpinan Produksi-nya yaitu Mbak Indriyani. Dia adalah manager dari Mahagenta, group yang memainkan The Phantom of Traditional Opera ini.

Ketika masuk ke ruang teater, ternyata banyak orang asing yang sudah duduk memenuhi kursi-kursi. Ada yang western dan juga eastern (aku sempat dengar ada yang bicara dengan bahasa Korea soalnya).
Acara dimulai, stage dibuka, dan pemain-pemain musik siap di belakang alat-alat musik tradisional seperti gamelan, kecapi, kendang, gendang bali, suling, bonang, jengglong, didgeridu, saluang, talempong, biola, rebab, tabla..wait .. tp ada juga alat musik biasa seperti drum, keyboard. Jadi yaaah, menurutku sih rada merusak komposisi instrument, yang tadinya benar-benar tradisional jadi rada nge-pop.
Awalnya aku dan mas Andrie kira opera ini ada alur ceritanya, seperti cerita Phantom of the Opera, ternyata perkiraan kami meleset. Tidak ada cerita ataupun pemain-pemain dramanya. Hanya ada pengiring dengan alat-alat musik tradisional tadi yang kusebutkan di atas dan 4 penyanyi. 2 pria, 2 wanita. Tidak jelas siapa yang memainkan peran Christine, Raoul, atau Phantom-nya. Jadi semua dinyanyikan bersama-sama. Kalau dari segi teknik vokal, hmmm, campuran antara seriosa dan pop, yang masih perlu banyak dibenahi. Banyak cengkok2 yang tujuannya menambah unsur tradisional, tapi menurut kami malah jadi aneh. Tempo lagu juga diseret-seret, dan beberapa lagu yang seharusnya bersahut-sahutan dan ada klimaks, ternyata tidak mereka nyanyikan. jadi tidak ada “greget”-nya :-/
Selain itu, tampilan visual juga kurang sedap dipandang mata, karena wardrobe dari para penyanyi juga terlihat seadanya. Memang sebelumnya, Mbak Indri sempat bilang kalo dana untuk mengadakan pertunjukan ini minim sekali, jadi ya mohon dimaklumi saja.
Dua penyanyi wanita mengenakan baju terusan warna putih seperti di film broadway “My Fair Lady”, tipe-tipe baju seperti itu, tapi 2 penyanyi pria-nya malah mengenakan baju tradisional yang kalau aku bisa bilang, seperti busana “Joko Tarub” :P 

Kami sempat ngantuk dan bosan banget. Masquerade dinyanyikan tidak dengan gaun/topeng dan tidak dengan koreografi atau dansa (kami kecewa…). Banyak jeda kosong di sela-sela lagu yang diisi oleh instrumen, padahal sebenarnya bisa saja kan, 4 penyanyi nya dansa.. mereka kelihatan mati gaya banget di panggung. Cuma gerak-gerak sedikit seperlunya.
Mendekati akhir, keluar 4 penari, perempuan & laki-laki, pakai topeng tradisional (bukan topeng Phantom), dan menari dengan gaya penari teater yang IMHO tidak jelas juga maksudnya apa tarian itu. Yah, paling tidak sedikit mengubah suasana deh.. 

Sebenarnya semua lagu yang ada di Phantom of the Opera mereka bawakan: Think of Me, Angel of Music, The Point of No Return, Primadona, Wishing You Were Somewhere-apaaaa gitu (aku lupa), All I Ask of You, Masquerade, dll. Semua lengkap dinyanyikan, bahkan lagu yang jadi soundtrack credit title-nya, aku lupa tu judul lagunya apa. Tapi ya itu, kurang greget, tidak ada klimaks. Padahal itu kan yang bikin bagus, dan bisa mendapat applause dari penonton.
Tidak lama kemudian, jam menunjukkan pukul 10 malam lebih, dan pertunjukan berakhir. Tanpa ada MC yang menjelaskan narasi dari pertunjukan mereka. Hmmm.. aku tidak tahu, apa itu memang gaya pertunjukan di Taman Ismail Marzuki atau memang Mahagenta maunya seperti itu.
Selesai acara, di luar aku bertemu dengan ibu Christina Mandang (beliau guru vokal alto, pernah sekolah konservatory di Belanda). Aku kenal beliau karena beliau jadi salah satu juri di Petra Choir Festival bulan Maret lalu.. yang nonton PCF pasti tau. Yah, bu Christina juga tidak berkomentar terlalu banyak -apalagi untuk segi vocal- tapi yang sangat disayangkan adalah bagaimana mereka mengemas acara itu..
Hmmm..dari tadi rasanya kok kritik smua ya? Segi positifnya.. ternyata musik mendunia seperti Phantom of the Opera bisa dibuat dengan versi tradisional. Meski masih perlu pembenahan banyak, tapi ide dan kreativitasnya patut dihargai. Dengan kritik-kritik yang udah aku dan mas Andrie sampaikan ke Mbak Indri, semoga mereka dapat membenahi kekurangan-kekurangan mereka karena kata mbak Indri mereka ingin konser keliling daerah.
Begitulah hasil lapdangdeng (laporan pandangan & pendengaran) malam ini. Maaf, kalau hasil fotonya tidak maksimal. Kamera kami ketinggalan, jadi cuma bisa capture pake kamera handphone.


Andjrot and Me =)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS